Showing posts with label perpustakaan. Show all posts
Showing posts with label perpustakaan. Show all posts

Wednesday, July 17, 2013

Cara Back Up dan Restore Senayan Versi Meranti Melalui Phpmyadmin

Back up data yaitu kegiatan membuat cadangan data dengan menyalin / memindahkan data tersebut ke media penyimpan lain. Hal ini berguna sebagai cadangan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan seperti data pada sistem utama hilang atau corrupt karena kena virus. Sebaiknya, kegiatan back up data ini dilakukan secara berkelanjutan dengan rentang waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan. Nah, untuk mengembalikan cadangan data ke sistem utama itu di namakan restore data.
Sebenarnya dalam modul senayan versi meranti yaitu modul systems sudah ada menu pilihan untuk memback up data. Namun, mungkin karena senayan saya termasuk versi meranti yang lama / belum upgrade, jadi ada beberapa sedikit kendala dalam memback up data.
Modul Bibliografi
Modul Bibliografi

Wednesday, June 19, 2013

Menambah Jurnal di Open Journal System (OJS)

Nah, setelah postingan sebelumnya, saya membahas tentang cara menginstal OJS di localhost, maka pada postingan ini saya akan menulis tentang cara menambah jurnal pada OJS tersebut. 

Langsung saja, begini caranya: 

Tuesday, June 18, 2013

Instalasi Open Journal System di Localhost



Open Journal System (OJS) adalah software berbasis open source yang digunakan untuk pengelolaan jurnal ilmiah secara online.OJS dapat mengatur jurnal secara fleksibel dan dapat diterbitkan secara online yang dapat didownload secara gratis. OJS ini sangat membantu pustakawan apabila akan mengelola jurnal secara terstruktur dan dapat langsung dipublish online.

Open Journal Systems (OJS) is an open source solution to managing and publishing scholarly journals online. It is a highly flexible editor-operated journal management and publishing system that can be downloaded for free and installed on a local web server. It has been designed to reduce the time and energy devoted to the clerical and managerial tasks associated with editing a journal, while improving the record-keeping and efficiency of editorial processes. It seeks to improve the scholarly and public quality of journal publishing through a number of innovations, from making journal policies more transparent to improving indexing.

Tuesday, March 26, 2013

Menambah Field Volume pada Senayan Versi Meranti

Hai, guys..
Long time no see yah? haha
Jadi aku dapet tugas buat program khusus untuk serial / terbitan berseri. Nah, karena udah ada program Senayan yang open source, jadi tinggal edit sana edit sini, disesuain dengan kebutuhan. Ceritanya, beliau menginginkan tampilan di record detail harus ada field volume dan number secara terpisah (secara ini koleksinya khusus tentang terbitan berseri.  Padahal tampilan dasar gak ada field tersebut secara terpisah.

Tampilan record detail tidak ada field volume nya


Pengennya muncul field kayak gini

Friday, January 18, 2013

Instalasi Senayan di 000Webhost

Untuk menginstal senayan versi meranti, yang kita perlukan yaitu file senayan itu sendiri, aplikasi filezilla untuk mengupload folder meranti ke 000webhost, dan akun 000webhost. Kalau gak punya akun ya percuma dong. Kita liat senayan secara online nya di website mana coba? :p Oiya, untuk mendapatkan file senayan versi meranti, bisa diunduh di sini. Nah, filenya diekstrak dulu yak untuk mempermudah upload datanya ntar. :)
Langsung aja ya, cara instal senayan versi meranti melalui 000webhost yaitu:

1.  Login akun 000webhost

 

Tuesday, January 8, 2013

Mengatur Letak Mysqldump pada Senayan di Localhost

Membuat cadangan / back up sangat penting dilakukan mengingat bisa saja suatu saat nanti ada kerusakan atau human error, misalnya menghapus data secara tidak sengaja. Nah, kalau saat kita membuka tampilan admin senayan dan muncul interface seperti di bawah ini, maka letak mysqldump kita belum benar. Mysqldump merupakan tempat back up data di senayan.


Mengatur Setting Sysconfig.inc.php pada Senayan

SLIMS (Senayan Library Management System) setelah dihostingkan ke website, juga harus diatur settingan pada sysconfig.inc.php . Hal ini bertujuan untuk menyamakan akun web kita pada senayan. Intinya, agar terhubung gitu.

Kali ini aku akan share cara mengatur settingan pada sysconfig.inc.php pada senayan yang sudah dihostingkan pada 000webhost. Caranya yaitu:
1. Login pada akun 000webhost


Cara Menginstal SLIMS Meranti di Local Server #Update

SLIMS ( Senayan Library Management System) versi Meranti dalam hal instalasinya agak sedikit berbeda dengan versi Matoa. Lebih simpel juga sih. hehe. Kalau mau download Senayan versi meranti, bisa diunduh di sini.
Untuk permulaan, aku mau instal meranti di lokal server alias dikomputer. Kalau lokal, kita gak perlu pake koneksi internet, cukup menggunakan aplikasi xampp untuk menghubungkan dengan server lokalnya yaitu localhost.
Caranya seperti ini:
1. Setelah senayan versi meranti di download, kalau masih berupa winrar, kita ekstrak dulu menjadi sebuah folder. Foldernya aku namain senayan biar gampang. hehe

Saturday, January 5, 2013

Instalasi Filezilla Client

FileZilla atau FileZilla Client, adalah salah satu software FTP gratis, open source, dan cross- platform.

Fitur utama dari Filezilla adalah :
  1. Site manager (Manajer situr) Mengizinkan pengguna untuk membuat daftar situs FTP beserta data koneksinya, seperti nomor port yang akan digunakan, protokol yang digunakan, dan apakah akan menggunakan log anonim atau normal. Untuk log normal, nama pengguna dan kata sandinya tersebut akan disimpan. Penimpanan kata sandi adalah opsional.
  2. Message log (Log pesan) Ditampilkan di bagian atas jendela. Fitur ini menampilkan output berjenis konsol (console-type) yang menunjukkan perintah yang dikirim oleh FileZilla dan respons yang diterima dari server.
  3. File and folder view Ditampilkan di bawah pesan log (Message log), menyediakan sebuah tampilan grafis antarmuka untuk FTP. Pengguna dapat menavigasi folder dan melihat dan mengubah isinya pada komputer lokal dan server dengan menggunakan tampilan antarmuka gaya Explorer. Pengguna dapat men-drag dan drop file antara komputer lokal dan server.
  4. Transfer queue (Transfer antrian) Ditampilkan di sepanjang bagian bawah jendela, menunjukkan status real-time setiap antrian atau transfer file yang aktif.

Filezilla ini berguna sebagai perantara / penghubung antara file yang ada dikomputer kita secara offline buat diupload di website online kita. Sebagai contoh, kalau kita ingin mengupload software SLIMS / Senayan, kita tinggal menguploadnya melalui software ini.

Berikut ini cara instalasi filezilla portabel : 

Friday, January 4, 2013

Thursday, January 3, 2013

Cara Membuat Free Website dari 000Webhost

Nah, kali ini aku akan share cara membuat website buatan sendiri yang tentunya free. Website ini bisa dibuat personal, bahkan menghostingkan SLIMS (Senayan Library Management System) alias si software perpustakaan. :)
Karena free alias gratis, maka nama domain nya pun sedikit aneh dan ada batas penyimpanannya. Tapi, kalau buat latihan, gak papa lah. Ntar kalau udah mahir, baru beli domain yang kita suka. :D

Kali ini, aku mau buat domain dari 000webhost. Caranya? cekidot deh :)

Wednesday, January 11, 2012

Psikologi Perpustakaan : teori motivasi


MAKALAH PSIKOLOGI PERPUSTAKAAN
 TEORI-TEORI MOTIVASI 
Disusun oleh:

FEBRIANA P.                       D1809022
FERRY ARIANTO               D1809023
FIRMAN ADHI F                D1809025
FITRI DIANAWATI             D1809026
FITRIANI M.S                     D1809027
GRANTINO ONE P.            D1809028
HERI SURYO P                    D1809029
ILLEGI RIAS MONICA     D1809030 
INEKE  K.A.                         D1809031  
INTAN PERMATA SARI    D1809032

D3 PERPUSTAKAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2011
 

Staf yang memiliki motivasi yang positif akan menghasilkan kinerja yang produktif, kreatif, dan komitmen terhadap organisasi yang tinggi. Rasa memiliki terhadap organisasi tentunya akan meningkatkan pelayanan perpustakaan kepada pengguna perpustakaan. Berikut ini adalah beberapa teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli psikologi untuk menerangkan mengapa seseorang atau melakukan sesuatu.

Tuesday, January 3, 2012

Laporan Kunjungan ke Museum Radya Pustaka : Perjanjian Giyanti

Laporan Kunjungan ke Museum Radya Pustaka : 
Perjanjian Giyanti
    Disusun oleh :
    Intan Permata Sari       (D1809032)
    D3 Perpustakaan UNS
    2011


    Laporan ini berkaitan dengan:
    • Isi Perjanjian Giyanti
    • Latar belakang terjadinya Perjanjian Giyanti
    • Kelanjutan Mataramm setelah Perjanjian Giyanti
    • Barang berkaitan dengan Perjanjian Giyanti

    Sunday, December 18, 2011

    Program Inovasi Pemberantasan Buta Huruf di Dunia

    JAKARTA - Masyarakat Indonesia ditantang untuk mencetuskan ide-ide inovatif dalam upaya pemberantasan buta huruf di dunia. 

    Melalui kompetisi bertajuk "Semua Anak Membaca: Sebuah Tantangan Besar untuk Pembangunan", para pelaku bisnis, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lembaga pendidikan di Indonesia diundang untuk berpartisipasi dalam kompetisi global sebagai upaya meningkatkan angka melek huruf dunia.

    Thursday, November 24, 2011

    Kongres Luar Biasa Himpunan Mahasiswa Perpustakaan dan Informasi Indonesia (KLB HMPII) 18-20 Nov 2011

    Well.. Ok, i'll tell ya a bit 'bout this conggress. ^_^
    Actually this is my first time join the conggress, especially national library and information student.
    So, i was amazed with all of the activity. hehe.
    So, Himpunan mahasiswa perpustakaan dan informasi Indonesia (HMPII) is the national organization that focus on how to create the togetherness between library and information science's student in Indonesia in national unity of spirit.
    I've got so many experiences and new friends of course. hehe,

    Saturday, October 15, 2011

    Biografi S. R. Ranganathan

    Shiyali Ramamrita Ranganathan merupakan salah satu tokoh ilmu perpustakaan. Beliau juga dijuluki sebagai Bapak ilmu perpustakaan.

    Biografi singkat dari Shiyali Ramamrita Ranganathan
    yaitu:
    • Lahir pada tanggal 9 Agustus 1892 di Shiyali, Madras, India.
    • Bersekolah di Sekolah Tinggi Hindu di Shiyali, di Madras Christian College (di mana Beliau mengambil gelar BA dan MA dalam matematika pada tahun 1913 dan 1916), dan di fakultas keguruan, Saidapet.
    • Pada tahun 1917 Beliau bergabung dengan universitas negeri di Mangalore.
    • Dari tahun 1920 sampai 1923 Beliau kemudian mengajar di Universitas Negeri Coimbatore, dan di Universitas Madras, pada 1921-1923.
    • Pada tahun 1924 Beliau diangkat sebagai pustakawan pertama dari Universitas Madras, dan untuk menyesuaikan dengan jabatan, Beliau pergi ke Inggris untuk belajar di Universitas Negeri di London.
    • Tahun 1925 sampai 1944 Beliau mengambil pekerjaan di Madras sampai 1944.
    • Tahun 1945-1954 Beliau menjabat sebagai pustakawan dan sebagai profesor ilmu perpustakaan di Universitas Hindu di Varanasi (Banaras), dan 1947-1954 Beliau mengajar di Universitas Delhi.
    • Tahun 1954-1957 Beliau terlibat dalam penelitian dan penulisan di Zürich.
    • Beliau kembali ke India pada tahun terakhir dan menjabat sebagai profesor tamu di Universitas Vikram, Ujjain, sampai tahun 1959.
    • Pada tahun 1962 Beliau mendirikan dan menjadi kepala Pusat Dokumentasi dan Penelitian Pelatihan di Bangalore, dan pada 1965 Beliau diberi penghargaan oleh pemerintah India dengan gelar profesor riset nasional di ilmu perpustakaan

    Prinsip-prinsip SR. Ranganathan dituangkan dalam 5 hukum dari Ilmu Perpustakaan atau Five Laws of Library Science adalah pertama dan, sampai saat ini, satu-satunya definisi yang jelas dari suatu fungsi-fungsi dan tanggung-jawab perpustakaan. Meski dapat dikatakan bahwa Hukum tersebut menuntut perenungan dan pengalaman sebelum menuju kepada kesempurnaan untuk digunakan sebagai petunjuk penting untuk pustakawan-pustakawan dengan potensi yang ada, untuk merencanakan dan menyediakan jasa pelayanan di dalam semua jenis perpustakaan.
    Five Laws of Library Science yang diungkapkan oleh SR. Ranganathan adalah :
    1) Books are for use
    Penekanan pada hukum yang pertama ini adalah bahwa perpustakaan harus mendapatkan pustaka dan membuat bahan perpustakaan tersebut mudah untuk digunakan oleh pemustaka , karena prinsip dasar hukum yang pertama ini mengandung dasar bahwa buku itu ada untuk digunakan.
    2) Every reader his/her book
    Hukum kedua ini mengungkapkan isu perdebatan yang fundamental antara harga koleksi dengan kebutuhan dasar pemustaka yang harus bisa mengakses koleksi yang mereka butuhkan. Hal ini membuat pengadaan menjadi sesuatu yang sangat penting, pengadaan harus mengakomodir kebutuhan pemustaka.
    3) Every book, its reader
    Hukum ini menekankan pada isu dasar tentang open access atau layanan terbuka sebuah perpustakaan. Open access artinya bahwa koleksi dapat diakses dengan bebas oleh pemustaka. Hal ini menunjukkan bahwa seharusnya, ketika ada pemustaka akan mengakses koleksi tertentu, maka koleksi tersebut harus pasti dapat ditemukan. Hal ini adalah menjadi tugas pustakawan dalam menjamin bahwa hubungan antara koleksi dengan pemustaka harus harmonis, dan kecepatan akses dalam penemuan kembali koleksi di perpstakaan harus dimaksimalkan.
    4) Save the time of the reader
    Kebijakan harus dirumuskan sesuai dengan kebutuhan pemustaka Jangan sekali kali membiarkan pemustaka kebingungan dan membutuhkan waktu yang lama dalam mengakses informasi yang dibutuhkan. Informasi yang dikumpulkan dan diolah perpustakaan harus disesuaikan dengan tujuan perpustakaan serta harus disesuaikan dengan lingkungan perguruan tinggi, kebiasaan dan sikap pemakai serta kebutuhan informasinya.
    5) A library is a growing organism
    Hukum kelima ini memberitahu kepada kita bahwa yang terpenting dari perpustakaan adalah bahwa perpustakaan itu selalu tumbuh dan berkembang serta berubah dan akan selalu mengalami hal seperti itu. Koleksi perpustakaan selalu bertambah dan berubah, teknologi terus berkembang mau dan budget juga selalu mengikuti perubahan itu. Perubahan-perubahan yang kompleks tersebut harus diantidipasi dan diimbangi dengan manajemen yang baik.


    Sumber:
    May, Michael. Shiyali Ramamrita Ranganathan. http://w3.uniroma1.it/vrd/mathematics/I-Ranganathan.html. Diakses tanggal 17 September 2011
    Sri Rohyanti Zulaikha. 2009. Five laws of library science. http://pustakasiana.blogspot.com/2009/07/five-laws-of-library-science.html. Diakses 12 Oktober 2011


    Friday, June 3, 2011

    Penerimaan Mahasiswa Diploma III Baru

    Tak terasa sudah memasuki musim penerimaan mahasiswa baru. Untuk calon mahasiswa baru, khususnya diploma UNS, ini aku kasih link leaflet spmbnya.

    Leaflet PMDK Diploma UNS

    Leaflet SPMB UTUL UNS
    Leaflet Jadwal tes khusus diploma UNS.

    Ok, segitu dulu. Ntar kalo keterima jangan lupa say hai yak, :).

    Thursday, June 2, 2011

    Citra Pustakawan dan Penyebabnya

    CITRA PUSTAKAWAN
    1. Definisi Citra
    Definisi citra menurut Bill Canton adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi. Menurut Philip Henslowe, citra adalah kesan yang diperoleh dari tingkat pengetahuan dan pengertian terhadap fakta (tentang orang-orang, produk atau situasi). Kemudian Rhenald Kasali juga mendefinisikan citra sebagai kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi. Sedangkan Frank Jefkins mengartikan citra sebagai kesan, gambaran atau impresi yang tepat (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya) mengenai berbagai kebijakan, personil, produk, atau jasa-jasa suatu organisasi atau perusahaan. Jadi dapat disimpulkan, citra adalah kesan yang muncul karena pemahaman suatu informasi mengenai berbagai kebijakan, personil, produk / jasa suatu organisasi / perusahaan.

    Citra adalah realitas karena orang hanya dapat bereaksi terhadap apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Untuk mengetahui citra seseorang terhadap suatu obyek dapat diketahui dari sikapnya terhadap objek tersebut.

    2. Jenis Citra
    Frank Jefkins dalam bukunya public relations (1984) dan buku lainnya essential of public relations (1998) mengemukakan jenis citra, antra lain:
    a. Mirror Image (Citra Bayangan)
    Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar, terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidak tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. Dalam situasi yang biasa, sering muncul fantasi semua orang menyukai kita.

    b. Current Image (Citra yang Berlaku).
    Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak-sedikitnya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya.

    c. Multiple Image (Citra Majemuk).
    Citra majemuk yaitu adanya image yang bermacam-macam dari publiknya terhadap organisasi tertentu yang ditimbulkan oleh mereka yang mewakili organisasi kita dengan tingkah laku yang berbeda-beda atau tidak seirama dengan tujuan atau asas organisasi kita.

    d. Corporate Image (Citra Perusahaan).
    Apa yang dimaksud dengan citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya.

    e. Wish Image (Citra Yang Diharapkan).
    Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau suatu organisasi. Citra yang diharapkn biasanya dirumuskan dan diterapkan untuk sesuatu yang relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai mengenainya.

    3. Citra Pustakawan
    Dalam permasalahan citra, menurut Cram ada beberapa komponen yang selalu dibicarakan berkaitan dengan profesi pustakawan, yaitu penampilan dan kepribadian, serta status dan gaji. Dua pasang kriteria tersebut selalu diperbandingkan dengan profesi lain. Sayangnya, kita selalu merasa berada di tingkat bawah. Padahal ada suatu keunggulan lain, namun tidak kita sadari, antara lain bahwa profesi kita merupakan profesi yang layak dipercaya. Buktinya pustakawan selalu berbicara sesuai dengan apa yang dia ketahui. Keadaan ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang akan menghargai ilmu. Hanya masyarakat terdidik yang akan menghargai pustakawan. Hal ini dikarenakan citra pustakawan merupakan cermin realitas bangsa. Citra pustakawan yang selama ini muncul diantaranya adalah: a. Profesi pustakawan kurang diakui sepenuhnya oleh masyarakat
    Profesi pustakawan di Indonesia relatif baru apabila dibanding dengan profesi lain seperti kedokteran, advokat, guru, wartawan, dan lainnya. Oleh karena itu wajar apabila dalam perjalanannya masih mencari bentuk dan menyesuaikan diri. Dalam proses ini dihadapkan pada beberapa kendala antara lain menyangkut pada pengakuan terhadap ilmu perpustakaan dan profesi pustakawan, rendahnya kinerja pustakawan, dan kurangnya perhatian pada perpustakaan.

    b. Pustakawan sebagai orang yang tidak selalu memiliki gelar sarjana, apalagi master.
    Faktanya, sebagian anggota masyarakat terdidik kita (baca: akademisi) juga masih ada yang memandang profesi pustakawan dengan sebelah mata. Sebagian yang lain berpandangan bahwa untuk menjadi seorang pustakawan tidak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi, seperti sarjana dan pascasarjana, namun cukup lulusan sekolah menengah dengan tambahan mengikuti kursus kepustakawanan selama satu atau dua tahun. Malah ada yang lebih ekstrim lagi cukup dengan mengikuti satu dua seminar/ pelatihan/ workshop kepustakawanan dan dengan bekal satu dua sertifikat saja mereka bisa dengan mudah menyandang titel pustakawan. Padahal untuk menjadi profesi pustakawan diperlukan berbagai keahlian khusus yang menunjang profesi tersebut.
    Yang tidak kalah menariknya adalah sebuah kenyataan bahwa keterpurukan citra pustakawan dirusak oleh “pustakawan” sendiri. Pada saat ini kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang memilukan, yaitu para pengelola perpustakaan merasa malu atau minder mengenalkan dirinya sebagai pustakawan. Sampai ada seseorang yang latar pendidikan sampai jenjang S2 perpustakaan, akan tetapi tidak digunakan untuk menunjang kariernya sebagai pustakwan, malah memilih menjadi peneliti pusdokinfo dengan alasan predikat peneliti lebih keren daripada pustakawan. Demikian juga di kalangan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, apabila ditanyakan tentang jurusan yang diambilnya, biasanya dengan malu-malu mengatakannya. Begitu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar, bidang dokinfo—yang perpustakaan berada di dalamnya—menjadi bidang untuk menampung orang-orang “buangan.” Ditempatkan di bagian perpustakaan sama dengan dimasukan kedalam “peti mati” atau karirnya telah berakhir.
    Citra tersebut bisa dirubah karena menarik tidaknya profesi pustakawan tergantung pada diri pustakawan itu sendiri. Sebab secara formal pemerintah telah mengakui dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Menpan) Nomor:33/Men/Pan/1998 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan tersebut kemudian direvisi menjadi SK Menpan Nomor:132/Kep/M/Pan/12/tahun 2002. Selain itu pustakawan telah memiliki organisasi profesi sebagai wadah yang menampung, merespon, membela, menyalurkan, membina dan mengembangkan anggotanya, baik dalam ruang lingkup nasional yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Congress of South East Asean Librarians (Consal) untuk tingkat regional, maupun tingkat internasional yang bernama International Federation of Library Associations (IFLA), serta masih banyak forum atau organisasi yang lain.

    c. Tunjangan untuk pustakawan sedikit

    Pemeritah menghargai pustakawan sama halnya dengan masyarakat umum. Dari semua jenis fungsional yang ada, pustakawan berada pada “kasta” yang paling rendah, tentu saja dengan tunjangannya pun yang paling sedikit. Berikut ini merupakan perbandingan tunjangan jabatan berdasarkan jenis jabatannya, yaitu:
    No. Jenis Jabatan Jenjang Jabatan Tunjangan Jabatan
    1 Peneliti Utama 1.118.000
    2 Perencana Utama 1.118.000
    3 Perekayasa Utama 1.118.000
    4 Pranata Komputer Utama 1.000.000
    5 Perpustakaan Utama 500.000
    6 Arsiparis Utama 500.000
    Sumber: diolah dari Profil Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil. Badan Kepegawaian Negara, 2004.
    Sedangkan sekarang menurut perpres nomor 47 tahun 2007 tentang jabatan fungsional pustakawan, tunjangan untuk pustakawan sudah bertambah menjadi 700.000 rupiah.

    d. Penampilan Pustakawan
    Pustakawan dalam melayani pengunjung / pengguna perpustakaan, dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin, karena penampilan merupakan hal yang pertama dilihat oleh pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan awal yang baik, akan memberikan kesan pertama yang baik pula terhadap pengunjung / pengguna perpustakaan,sehingga akan timbul rasa kagum, simpati, dan hormat terhadap pustawawan/karyawan perpustakaan. Dengan penampilan yang buruk akan memberikan kesan yang negatif. Hal ini dikarenakan penampilan merupakan citra perpustakaan dimata pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan yang baik, citra atau image perpustakaan juga akan baik, demikian pula sebaliknya.
    Dalam prakteknya, penampilan seseorang tidak dapat dibohongi, artinya penampilan tidak dapat dibuat-buat namun harus dihayati dan dilakukan dengan penuh keikhlasan (kerelaan), Hilangkan rasa keterpaksaan dalam melayani pengunjung/pengguna perpustakaan, karena hal ini akan mengakibatkan penampilan menjadi tidak baik.

    B. PENYEBAB TERJADINYA CITRA PUSTAKAWAN
    Pustakawan sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Mereka memposisikan pustakawan sebagai penjaga dan perawat buku dalam sebuah perpustakaan. Hal ini terjadi, karena pustakawan sendiri tidak mau bangkit dari pekerjaan rutin yang bersifat teknis belaka, diantaranya mengolah bahan pustaka, pelayanan sirkulasi, merawat buku-buku dan sebagainya. Berikut yang membuat citra pustakawan menjadi kurang baik :
    1. Pustakawan kaku
    Pustakawan sering menunjukkan ketidaksiagaan dalam memberikan pelayanan, sehingga terkesan kaku dan acuh kepada pengguna. Pengunjung sering merasa tidak nyaman, suasana kaku dalam perpustakaan, karena sikap petugas yang kurang luwes menyambut mereka. Perpustakaan menjadi tempat yang menyeramkan untuk dikunjung, karena pelayanan yang kurang memuaskan. Pengguna seharusnya merasakan perpustakaan seperti rumah mereka sendiri dengan pustakawan yang selalu bersahabat dan welcome kepada mereka.

    2. Pustakawan tenaga buangan
    Hal yang sangat disayangkan, pendapat yang mengatakan pengawas yang ditempatkan di perpustakaan tak lebih sebagai tenaga buangan. Artinya, sumber daya manusia yang ditempatkan di perpustakaan hanyalah orang-orang yang tidak mempunyai keahlian atau yang bermasalah. Alasan lain yang sering dikemukakan, karena pekerjaan di perpustakaan dapat dilakukan oleh setiap orang. Dengan demikian pustakawan tak lebih sebagai tenaga administrasi serta penjaga dan perawat bukus saja, tanpa memperhatikan tugas yang sebenarnya. Ironisnya dari lembaga induk juga tidak dapat memasang target ke depan bahwa syarat minimal tenaga pustakawan adalah memiliki keahlian di bidang perpustakaan, sehingga image terhadap perpustakaan khususnya pustakawan semakin terpuruk. Kehadiran sumber daya manusia yang handal akan menjadi partner bagi perpustakaan dalam rangka memberikan pelayanan. Tentu saja dengan dukungan sarana prasarana penunjang yang lengkap dan up to date.

    3. Pustakawan tidak selalu memiliki gelar sarjana
    Sebagian anggota masyarakat kita masih ada yang memandang bahwa untuk menjadi seorang pustakawan tidak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi, seperti sarjana dan pascasarjana, namun cukup lulusan sekolah menengah dengan tambahan mengikuti kursus kepustakawanan selama satu atau dua tahun. Malah ada yang lebih ekstrim lagi cukup dengan mengikuti satu dua seminar/ pelatihan/ workshop kepustakawanan dan dengan bekal satu dua sertifikat saja mereka bisa dengan mudah menyandang titel pustakawan. Padahal untuk menjadi profesi pustakawan diperlukan berbagai keahlian khusus yang menunjang profesi tersebut.

    4. Kurangnya pengakuan dan penghargaan terhadap lembaga perpustakaan di Indonesia.
    Menurut Totterdell (2005), pustakawan masih memiliki masalah dalam hal citra dan status. Dia juga mengatakan bahwa dalam beberapa hal, masalah tersebut terlihat lebih buruk pada pustakawan akademik yang secara terus menerus berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas kontribusi mereka yang sangat besar di lembaganya. Bahkan di Inggris, status, gaji dan citra pustakawan pada semua tingkatan dan unit-unit informasi selalu menjadi masalah, dan kebanyakan praktisi di sektor ini yakin bahwa situasi tersebut lebih memburuk daripada berkembang. Kondisi tersebut secara tidak disadari telah membentuk suatu kondisi dimana untuk menjadi masyarakat cerdas dibutuhkan perpustakaan, bukan pustakawan. Artinya, persoalan pustakawan menjadi persoalan internal lembaga perpustakaan, bukan persoalan masyarakat.

    5. Tidak adanya standarisasi tugas.
    Pustakawan tidak memiliki acuan yang jelas dalam memberikan layanan sehingga cenderung menggunakan standar pribadi masing-masing sehingga berpengaruh pada pelayanannya bagi pengguna yang berdampak munculnya citra pustakawan itu sendiri.

    6. Tidak ada kesesuaian antara skill pegawai dengan bidang tugas yang sesuai. Penempatan staf yang tidak sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan untuk mengerjakan suatu layanan akibat tidak diterapkannya sistem kepegawaian berbasis kompetensi.

    7. Kemampuan berkomunikasi pustakawan yang tidak tepat.
    Banyak keluhan pengguna yang timbul akibat kesalahpahaman dalam berkomunikasi. Sebaliknya, banyak masalah yang dapat diselesaikan jika memiliki kemampuan komunikasi yang tepat, baik antar pustakawan maupun antara pustakawan dan pengguna.

    8. Pustakawan yang kurang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan perpustakaan.
    Hal tersebut menyebabkan kurangnya pelayanan sehingga mengakibatkan generasi muda enggan untuk berkunjung ke perpustakaan dan pustakawan memiliki citra yang kurang baik. Salah satu contohnya, banyak perpustakaan yang mempunyai banyak buku tetapi administrasinya kurang baik, misalnya saja buku tidak dklasifikasikan. Hal ini akan menyulitkan pembaca untuk mencari buku yang diinginkan. Pustakawan sekarang tidak jauh beda dengan masyarakat pada umumnya. Ia dipekerjakan sebagai pustakawan, tetapi banyak dari mereka tidak memiliki dasar perpustakaan. Mayoritas pustakawan saat ini hanya mengerjakan tugas standar seperti klasifikasi, membuat katalog / kartu indeks, labeling tanpa dapat memahami kinginan pengunjung.

    Tuesday, May 17, 2011

    Studi Banding D3 Perpustakaan '09 UNS

    Finally, we did it. :)
    Setelah perjuangan yang panjang dan menyakitkan (lebay.com) hehe, akhirnya studi banding ini bisa terlaksana dengan baik.

    Hari 1
    Jadwal semula untuk berkumpul jam 09.30 menjadi molor sampai jam 11.00. Sebelum berangkat, kami semua diberi wejangan oleh Pak Alex, Kaprodi D3 perpustakaan agar membanggakan jurusan di mana pun kami berada. Sayangnya, beliau tidak bisa ikut dalam studi banding ini karena suatu hal. Jadi, yang akan mendampingi kami selama di sana yaitu Pak Solikhin, Bu Riah, dan Pak Daryono. Namun, Pak Daryono hanya bisa mendampingi pada hari ketiga.

    Bus yang akan kami tumpangi yaitu 2 bis shark yang bergambar kartun warna-warni (Hadah, serasa anak TK ini kalo naek bis ini, hehe, but what so ever lah, hehe). Kebetulan aku naek bis 1, yang katanya anak bis 2, bisku lebih longgar, hehe. Karena aku mabuk darat, so, sebelum naek bis, makan antimo dulu (baca: makan kayak makan permen). Pahitnyoo..

    Perjalanan kali ini mungkin akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan. Tapi aku yakin, banyak pengalaman indah yang dapat dipetik di sini. :)

    Hari 2
    Pagi-pagi sekali, kami sudah transit di SPBU. Untung sempat mandi di sana, kalau tidak kucel lah muka ni, hehe. Abis transit, perjalanan dilanjutkan ke perpustakaan rumah dunia di daerah Banten. Lama nian perjalanannya, mana belum dikasih sarapan lagi, hadeh.
    Sampai di perpustakaan rumah dunia, baru deh makan-makan. Abis ntu, reportase dimulai. I'm ready :)


    "Perpustakaan Rumah Dunia didirikan oleh Gol A Gong, seorang penulis yang karyanya banyak dipublikasikan ke mana-mana. Kekurangan fisik yang dimilikinya karena terjatuh dari sepeda di masa kecil, tak menghalanginya untuk berprestasi dan melakukan sesuatu yang berguna untuk sesama. Perpustakaan Rumah Dunia merupakan salah satu dedikasinya untuk masyarakat di sekitarnya. Gol A Gong berprinsip bahwa "iqro" yang artinya "bacalah" merupakan pondasi kesuksesan seseorang."



    Setelah dari Perpustakaan rumah dunia, perjalanan langsung dilanjutkan ke studio Opera Van Java (OVJ). Ok, tujuan yang satu ini memang terkesan dadakan karena dalam rencana pun tidak dijadikan tujuan studi banding. Aku pun sempat terkejut (i was really surprised, bcoz noone told me and it didn't one of our plans).

    Sampai di tujuan, aku pun sempat terbengong-bengong karena baru pertama kali masuk studio. (hadeh, tampang blo'onku kumat, ^^!) Yang paling bikin seneng ya karena habis ini syuting nda. Syuting perdana bo'. Walaupun cuma nonton doang and kenyataannya gak pernah nampang di kamera atw di layar kaca, hmm. But, it's ok lah.. Paling enggak bisa nonton live. hehe

    Abis ke OVJ, rombongan meluncur ke studio hitam putih. Dan inipun bukan merupakan rencana studi banding kita. Shooting kedua ni (ceilee, sombong nian awak, hehe). Studionya terletak di daerah Pancoran dan kita dapet shift kedua. Nunggu lagi, mana entar hotelnya di daerah Jakarta utara lagi. Jauh nian. Hmm. Bintang tamunya Sandy Aulia. Dan aku pun tidak ke shoot lama lagi sebagai penonton. Hmm, efek dari sombong tingkat tinggi nih. Ampun Tuhan..


    Hari 3
    Setelah selesai dari studio hitam putih, kita langsung pulang ke hotel di daerah Mangga Dua. Rencana awalnya sih, abis dari Banten langsung shopping ke Mangga Dua. Tapi, gak jadi. Ya sudahlah. hehe. Aku dapet kamar berenam di lantai 7. Mana liftnya cuma ampe lantai 6 lagi. Kamar mandi di luar. Hadudu, antri mandi ni. Jam 02.00 pagi baru selesai mandi. Abis itu nyalain alarm karena harus antri mandi lagi, trus bobok dah. Sleep tight...

    Bangun pagi kuterus mandi, hehe. Antri mandi lagi bo'. Brrr, untung ada hot water, jadi gak kerasa dingin padahal mandi jam 04.30. Mungkin pagi ini merupakan pagi terbersih ku karena gak sampe 5 jam udah mandi 2 kali. hehe. Abis mandi, terus sholat subuh, dan prepare buat perjalanan nanti.


    to be continued







    Friday, April 22, 2011

    Citra Pustakawan Masa Kini

    CITRA PUSTAKAWAN
    • Definisi Citra
    Definisi citra menurut Bill Canton adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi. Menurut Philip Henslowe, citra adalah kesan yang diperoleh dari tingkat pengetahuan dan pengertian terhadap fakta (tentang orang-orang, produk atau situasi). Kemudian Rhenald Kasali juga mendefinisikan citra sebagai kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan. Pemahaman itu sendiri timbul karena adanya informasi. Sedangkan Frank Jefkins mengartikan citra sebagai kesan, gambaran atau impresi yang tepat (sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya) mengenai berbagai kebijakan, personil, produk, atau jasa-jasa suatu organisasi atau perusahaan. Jadi dapat disimpulkan, citra adalah kesan yang muncul karena pemahaman suatu informasi mengenai berbagai kebijakan, personil, produk / jasa suatu organisasi / perusahaan. Citra adalah realitas karena orang hanya dapat bereaksi terhadap apa yang mereka alami dan mereka rasakan. Untuk mengetahui citra seseorang terhadap suatu obyek dapat diketahui dari sikapnya terhadap objek tersebut.

    • Jenis Citra
    Frank Jefkins dalam bukunya public relations (1984) dan buku lainnya essential of public relations (1998) mengemukakan jenis citra, antra lain: a. Mirror Image (Citra Bayangan) Citra bayangan adalah citra yang dianut oleh orang dalam mengenai pandangan luar, terhadap organisasinya. Citra ini seringkali tidak tepat, bahkan hanya sekedar ilusi, sebagai akibat dari tidak memadainya informasi, pengetahuan ataupun pemahaman yang dimiliki oleh kalangan dalam organisasi itu mengenai pendapat atau pandangan pihak-pihak luar. Dalam situasi yang biasa, sering muncul fantasi semua orang menyukai kita.
    b. Current Image (Citra yang Berlaku). Citra yang berlaku adalah suatu citra atau pandangan yang dianut oleh pihak-pihak luar mengenai suatu organisasi. Citra ini sepenuhnya ditentukan oleh banyak-sedikitnya informasi yang dimiliki oleh mereka yang mempercayainya. c. Multiple Image (Citra Majemuk). Citra majemuk yaitu adanya image yang bermacam-macam dari publiknya terhadap organisasi tertentu yang ditimbulkan oleh mereka yang mewakili organisasi kita dengan tingkah laku yang berbeda-beda atau tidak seirama dengan tujuan atau asas organisasi kita. d. Corporate Image (Citra Perusahaan). Apa yang dimaksud dengan citra perusahaan adalah citra dari suatu organisasi secara keseluruhan, jadi bukan sekedar citra atas produk dan pelayanannya. e. Wish Image (Citra Yang Diharapkan). Citra harapan adalah suatu citra yang diinginkan oleh pihak manajemen atau suatu organisasi. Citra yang diharapkn biasanya dirumuskan dan diterapkan untuk sesuatu yang relatif baru, ketika khalayak belum memiliki informasi yang memadai mengenainya.
    • Citra Pustakawan
    Dalam permasalahan citra, menurut Cram ada beberapa komponen yang selalu dibicarakan berkaitan dengan profesi pustakawan, yaitu penampilan dan kepribadian, serta status dan gaji. Dua pasang kriteria tersebut selalu diperbandingkan dengan profesi lain. Sayangnya, kita selalu merasa berada di tingkat bawah. Padahal ada suatu keunggulan lain, namun tidak kita sadari, antara lain bahwa profesi kita merupakan profesi yang layak dipercaya. Buktinya pustakawan selalu berbicara sesuai dengan apa yang dia ketahui. Keadaan ini mengingatkan kita pada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa hanya orang yang berilmu yang akan menghargai ilmu. Hanya masyarakat terdidik yang akan menghargai pustakawan. Hal ini dikarenakan citra pustakawan merupakan cermin realitas bangsa. Citra pustakawan yang selama ini muncul diantaranya adalah:
    a. Profesi pustakawan kurang diakui sepenuhnya oleh masyarakat
    Profesi pustakawan di Indonesia relatif baru apabila dibanding dengan profesi lain seperti kedokteran, advokat, guru, wartawan, dan lainnya. Oleh karena itu wajar apabila dalam perjalanannya masih mencari bentuk dan menyesuaikan diri. Dalam proses ini dihadapkan pada beberapa kendala antara lain menyangkut pada pengakuan terhadap ilmu perpustakaan dan profesi pustakawan, rendahnya kinerja pustakawan, dan kurangnya perhatian pada perpustakaan.
    b. Pustakawan sebagai orang yang tidak selalu memiliki gelar sarjana, apalagi master.
    Faktanya, sebagian anggota masyarakat terdidik kita (baca: akademisi) juga masih ada yang memandang profesi pustakawan dengan sebelah mata. Sebagian yang lain berpandangan bahwa untuk menjadi seorang pustakawan tidak harus menempuh jenjang pendidikan tinggi, seperti sarjana dan pascasarjana, namun cukup lulusan sekolah menengah dengan tambahan mengikuti kursus kepustakawanan selama satu atau dua tahun. Malah ada yang lebih ekstrim lagi cukup dengan mengikuti satu dua seminar/ pelatihan/ workshop kepustakawanan dan dengan bekal satu dua sertifikat saja mereka bisa dengan mudah menyandang titel pustakawan. Padahal untuk menjadi profesi pustakawan diperlukan berbagai keahlian khusus yang menunjang profesi tersebut. Yang tidak kalah menariknya adalah sebuah kenyataan bahwa keterpurukan citra pustakawan dirusak oleh “pustakawan” sendiri. Pada saat ini kita sedang menyaksikan sebuah fenomena yang memilukan, yaitu para pengelola perpustakaan merasa malu atau minder mengenalkan dirinya sebagai pustakawan. Sampai ada seseorang yang latar pendidikan sampai jenjang S2 perpustakaan, akan tetapi tidak digunakan untuk menunjang kariernya sebagai pustakwan, malah memilih menjadi peneliti pusdokinfo dengan alasan predikat peneliti lebih keren daripada pustakawan. Demikian juga di kalangan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, apabila ditanyakan tentang jurusan yang diambilnya, biasanya dengan malu-malu mengatakannya. Begitu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan besar, bidang dokinfo—yang perpustakaan berada di dalamnya—menjadi bidang untuk menampung orang-orang “buangan.” Ditempatkan di bagian perpustakaan sama dengan dimasukan kedalam “peti mati” atau karirnya telah berakhir. Citra tersebut bisa dirubah karena menarik tidaknya profesi pustakawan tergantung pada diri pustakawan itu sendiri. Sebab secara formal pemerintah telah mengakui dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Penertiban Aparatur Negara (Menpan) Nomor:33/Men/Pan/1998 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan tersebut kemudian direvisi menjadi SK Menpan Nomor:132/Kep/M/Pan/12/tahun 2002. Selain itu pustakawan telah memiliki organisasi profesi sebagai wadah yang menampung, merespon, membela, menyalurkan, membina dan mengembangkan anggotanya, baik dalam ruang lingkup nasional yang bernama Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI), Congress of South East Asean Librarians (Consal) untuk tingkat regional, maupun tingkat internasional yang bernama International Federation of Library Associations (IFLA), serta masih banyak forum atau organisasi yang lain.

    c. Tunjangan untuk pustakawan sedikit
    Pemeritah menghargai pustakawan sama halnya dengan masyarakat umum. Dari semua jenis fungsional yang ada, pustakawan berada pada “kasta” yang paling rendah, tentu saja dengan tunjangannya pun yang paling sedikit. Berikut ini merupakan perbandingan tunjangan jabatan berdasarkan jenis jabatannya, yaitu: No. Jenis Jabatan Jenjang Jabatan Tunjangan Jabatan 1 Peneliti Utama 1.118.000 2 Perencana Utama 1.118.000 3 Perekayasa Utama 1.118.000 4 Pranata Komputer Utama 1.000.000 5 Perpustakaan Utama 500.000 6 Arsiparis Utama 500.000 Sumber: diolah dari Profil Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil. Badan Kepegawaian Negara, 2004. Sedangkan sekarang menurut perpres nomor 47 tahun 2007 tentang jabatan fungsional pustakawan, tunjangan untuk pustakawan sudah bertambah menjadi 700.000.


    d. Penampilan Pustakawan
    Pustakawan dalam melayani pengunjung / pengguna perpustakaan, dituntut untuk berpenampilan semenarik mungkin, karena penampilan merupakan hal yang pertama dilihat oleh pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan awal yang baik, akan memberikan kesan pertama yang baik pula terhadap pengunjung / pengguna perpustakaan,sehingga akan timbul rasa kagum, simpati, dan hormat terhadap pustawawan/karyawan perpustakaan. Dengan penampilan yang buruk akan memberikan kesan yang negatif. Hal ini dikarenakan penampilan merupakan citra perpustakaan dimata pengunjung / pengguna perpustakaan. Dengan penampilan yang baik, citra atau image perpustakaan juga akan baik, demikian pula sebaliknya.
    Dalam prakteknya, penampilan seseorang tidak dapat dibohongi, artinya penampilan tidak dapat dibuat-buat namun harus dihayati dan dilakukan dengan penuh keikhlasan (kerelaan), Hilangkan rasa keterpaksaan dalam melayani pengunjung/pengguna perpustakaan, karena hal ini akan mengakibatkan penampilan menjadi tidak baik.



    DAFTAR PUSTAKA

    Oliver, sandra. 2007. Strategi public relations. Jakarta: erlangga.

    Soemirat, Soleh dan Ardianto, Elvinaro. 2008. Dasar – dasar public relations: Bandung: Remaja Rosdakarya.

    Sudarsono, Blasius. 2006. Berkaca sebelum keluar rumah: refleksi diri pustakawan dalam Antologi kepustakawanan Indonesia (hal. 74-84). Jakarta: IPI.

    __. __. Membangun citra pustakawan Indonesia. http://www.bit.lipi.go.id/masyarakat-literasi/index.php/membangun-citra-pustakawan-indonesia?showall=1. Diakses tanggal 27 April 2011

    __. __. Citra Pustakawan. http://celotehaziz.blogdetik.com/tag/citra-pustakawan/. Diakses tanggal 27 April 2011.