Friday, November 20, 2015

Perpisahan


Because tonight will be the night that I will fall for you
Over again
Don't make me change my mind
Or I won't live to see another day
I swear it's true
Because a girl like you is impossible to find
You're impossible to find - Fall for you

Alunan lagu fall for you Secondhand Serenade terdengar pelan diantara suara bising kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan. Aku menghampirimu yang duduk sendirian. Pandanganmu menatap ke kendaraan yang lalu lalang sementara tanganmu menggenggam handphone yang mengalunkan lagu itu. Kosong. Aku duduk di sampingmu. Menatapmu lamat-lamat. Jarang sekali aku bisa menatapmu sedekat ini.


And as you move on, remember me,
Remember us and all we used to be
I've seen you cry, I've seen you smile.
I've watched you sleeping for a while.
I'd be the father of your child.
I'd spend a lifetime with you. - Goodbye my lover


Musik sudah berubah ke lagu selanjutnya. Lagu James Blunt mulai mengalun merdu. Kamu seakan tersadar akan keberadaanku kemudian tersenyum tipis sambil menatapku.

"Sudah selesai ke kamar mandinya tadi?" katamu.
"Sudah kok. Eh itu lagu siapa sih, enak ya."
"Lagunya cocok banget ya buat malem ini, coba deh kamu dengerin liriknya"

Goodbye my lover.
Goodbye my friend.
You have been the one.
You have been the one for me. - Goodbye my lover


Aku sudah tahu lagu itu, batinku. Dan tatapanmu kali ini berbeda. Tatapan seakan-akan tidak ingin kehilangan. Tatapan yang entah apa maksudnya. Aku terdiam dan mengalihkan pandangan ke depan.

"Eh kamu tahu enggak, hari ini kayaknya jadi hari terakhir kita ketemu ya, wah, padahal aku masih pengen banget bisa maen-maen di sini. Minggu depan aku sudah berangkat ke sana. Kita jadi jauhan dong ya. Nanti kalau udah jauhan, komunikasi tetep di jaga ya, jangan sampe putus. Jarak gak ngehalangin pertemanan kita kan ya? Hahaha." Aku berusaha ngobrol senatural mungkin, sama seperti biasanya. Saat semuanya masih biasa saja. Hening.

"Iya kan?" Kataku sambil menoleh ke kamu. Ah, tatapan itu lagi. Tatapan matamu itu. Sungguh, aku tidak tahu apa maksudmu kali ini. Namun aku tidak ingin menyalah artikan tatapanmu. Biarlah kusimpan sendiri pertanyaan-pertanyaan ini di dalam pikiranku. Seperti biasa, aku tidak perlu jawaban karena aku tidak ingin terlalu berharap sama seperti setahun yang lalu.

"Hei, kamu kenapa sih, bengong gitu? Jelek tahu," kataku. Aku tertawa lagi. Aku berusaha menyembunyikan gugup ku darimu.
"Iya, kita masih bisa komunikasi ya, tapi nanti kalau maen bakal tidak ada kamu lagi pasti ya, sepi," Jawabmu.
"Ah, santai aja lagi, nanti kalau aku sudah boleh cuti, aku bakalan pulang dan kita akan maen bareng-bareng lagi. Pokoknya nanti kalau aku pulang, kamu harus bisa, ga ada alesan macem-macem, hahaha."

Kamu tersenyum. Senyum yang berbeda. Senyum yang membuatku semakin merasa "ada apa-apa" di antara kita. Senyum yang membuatku semakin tidak mau jauh-jauh lebih lama dari kamu. Ah, rasa apa ini. Rasa ini sudah seharusnya hilang sejak setahun lalu. Rasa yang paling kubenci. Perasaan  yang lama kupendam muncul kembali.

Tiiiin.. Tiiinn. 
Suara klakson memecahkan keheningan di antara kita. Kamu mengajakku untuk segera masuk ke mobil travel. Kita akan melanjutkan kembali separuh jalan untuk pulang.  Seandainya waktu itu, ah sekarang bukan waktunya untuk berkhayal. Kita sudah sama-sama mengerti kalau hubungan kita akan tetap seperti ini dan tak lebih. Aku dengan pasanganku dan begitupun kamu dengan pasanganmu.

2 comments: