Tuesday, October 13, 2015

Bintang di Ranu Kumbolo

1 Bulan sebelum keberangkatan...
Suatu malam, ketika saya pulang kerja, saya menatap langit Jakarta; biru kelam. Tak tampak bintang maupun awan putih yang dulu biasanya sering saya lihat di desa saya. Sendu, sepi, di tengah padat dan keramaian jalan raya di seberang saya, seperti langit malam itu. Saya rindu bintang, pengen lihat lagi. Pikiran saya mengawang pada suatu tempat di mana saya bisa lihat jutaan bintang di langit. Iya, Ranu Kumbolo di Malang. 
Setelah sampai di kos, saya segera mencari tiket menuju Malang. Mencari tiket kereta untuk weekend lebih sulit saat ini. Alhasil habis semua, dan tersisa tiket untuk keberangkatan tanggal 19 September 2015 kemarin. Saya mengkontak teman saya yang berprofesi sebagai guide di sana untuk menanyakan apakah beliau free untuk tanggal itu. Alhamdulillah sih free. Akhirnya, saya segera membeli tiket tersebut.

H-14
Stalking-stalking blog untuk tips mendaki buat pemula dan online shop untuk membeli celana panjang. Maklum, celana panjang yang saya punya cuma jeans dan celana olahraga. Hahaha. Tapi pada akhirnya, saya memutuskan untuk membeli secara langsung. Biar lebih ngerti bahannya kayak apa juga sih. Selain itu, juga latihan olahraga di Monas dan jalan jarak jauh. Kalau ke Monas dari kosan pulang pergi bisa 5 kiloan, cyiintt. Jauh juga ternyata. Hahaha.



H-1
Mulai izin ortu kalau mau berangkat ke ranu kumbolo dan selama 2 hari ke depan gak bisa dihubungi karena bakalan susah sinyal. Orang tua mulai khawatir tanya ini itu, padahal berangkat juga beloom. Hahaha. Akhirnya, perjalanan ke Malang dimulai dengan naik kereta dari Stasiun Gambir selama 15 jam 35 menit. Selama di kereta, saya sengaja gak pakai jaket, buat aklimatisasi kata penulis blogger yang saya baca. And it works for me when i was there. 

Sabtu, 19 September 2015
Saya sampai di Malang pukul 9.20 tepat, tapi dijemput jam 10. Ketiduran guide nya. Akhirnya , saya ditraktir sarapan soto di dekat stasiun. Yummy, tahu saja guidenya kalau saya kelaparan. Setelah itu, saya menuju Camp Tumpang untuk berkemas kemas. Saya sempat "dimarahi" karena gak bawa sleeping bag. Tapi, sebelumnya saya 'kan sudah pernah bilang ke dia kalau saya gak bawa apa-apa dari sini. Sesampainya di camp, ngobrol sana sini sama mas guidenya yang ada di sana. Mas-masnya ramah-ramah yah, sampai-sampai saya ditawarin sepatu buat dipakai karena dia ngeliatin kalau saya cuma pakai sandal gunung. Voila, ternyata pas ukurannya sama-sama 38. Ah, hidup itu indah. 

Sehabis dzuhur, kami berangkat ke ranu pane, pos perizinan pendakian yang jadi starting point pendakian. Jadi, total ada 4 orang yang jadi teman mendaki saya. Saya diwajibkan mengisi formulir pendataan dan fotokopi ktp, serta uang pendaftaran. Setelah beres, kami makan dulu di sana. Maklum, saya gampang laper. Hahaha.
And here we go, kami memulai pendakian sesudah asar. And guess what, this is extremely not fit with my expectation. Ternyata susah lho, ternyata capek lho. And during the hiking, i'm looking for the reason why people likes to go to mountain. Is it because of pride? wants to show off? looking for the different atmosphere? Looking for the meaning of their life? or just like me looking for simple thing that i havent found again now? Sepanjang perjalanan kami sesekali berbincang. Iya, hanya sesekali, soalnya, mengatur napas untuk jalan menanjak dengan bicara itu melelahkan sekali. Selain itu, jalan menanjak ini lebih capek dari jalan dari kosan ke Monas, walaupun jaraknya jauhan dari kosan ke Monas kalau cuma sampai pos 1 sih, sedangkan ada total 4 pos yang menanti. Ya iyalah, jalanannya selain terjal juga gak rata. Tapi seru sih. Hahaha.

Akhirnya, kami sampai ke pos 1. Guess what, di sana ada yang jualan semangka, gorengan, dan minuman seperti kopi dan susu juga loooh. Wah, keren yak. Kami gak menghabiskan waktu terlalu lama di situ. Selain berpacu dengan waktu, kami juga ingin cepat sampai sebelum gelap. Selama perjalanan, saya sering banget minta waktu istirahat bentar, semenitan gak sampe sih. Ngatur napas sambil menahan kepala yang mulai pening kekurangan oksigen. Setelah beberapa jam berjalan, akhirnya sampai pos 4 dan hari mulai gelap. Saya gak terbiasa berjalan di kegelapan, pun walau sudah dibantu dengan headlamp, masih saja kadang-kadang tersandung batu. Untungnya gak sampai jatuh juga sih. Waktu berjalan, belum begitu terasa dinginnya. Karena beberapa jam berjalan, kaos belakang basah gara-gara keringat.

Yang jualan di ketinggian seperti ini anti mainstream sekali :D
Akhirnya, pukul 6an sore, kami sudah sampai di Ranu Kumbolo. Kami segera bergegas mendirikan tenda dan membuat air panas untuk menghangatkan badan. Setelah selesai, saya kemudian masuk tenda, berganti pakaian, dan solat. Penting nih, diusahakan untuk berganti pakaian biar gak masuk angin, soalnya kan pakaian yang kami kenakan kan basah tuh.

Malam itu, kami berbagi tawa canda sambil makan malam ditemani jutaan bintang di langit. Ah, indahnya.

Saya terbangun oleh alarm sholat di HP saya. Segera saya melaksanakan solat di tengah dinginnya udara pagi kala itu, yang kata guidenya tidak sedingin waktu dia kesini. Ah elaaah. Seperti ini saya saya sudah menggeratakkkan gigi, apalagi kalau dulu. Karena masih gelap akhirnya saya tidur lagi dan ketinggalan momen sunrise di antara bukit di sana. Duh, kenapa juga saya ini. Ya namanya juga capek sih ya. Bangun-bangun, matahari sudah muncul dan hawanya sudah panas. Kami keluar dan menikmati sekitar danau dan naik ke tanjakan cinta untuk melihat lebih dekat Oro-oro Ombo. Namun sayang, 'kebun' lavender di sana sudah hangus terbakar karena cuaca kering katanya. Setelah puas berjalan di sekitar, kami sarapan bersama.




Oro-oro ombo terbakar
Oro-oro ombo terbakar


Jam sudah menunjukkan pukul 8.30 . Hawa di sana sudah terlihat sangat panas menurut saya. Kami segera berkemas-kemas untuk pulang meninggalkan Danau Ranu Kumbolo. Sampai berjumpa kembali Ranu Kumbolo. Terima kasih untuk suasana dan pengalamannya saat itu.
pulang
pulang

Danau Ranu Kumbolo
Danau Ranu Kumbolo



No comments:

Post a Comment