Wednesday, May 13, 2015

Mbolang ke Pulau Bangka



Semua berawal dari keisengan saya melihat open trip yang banyak sekali ditawarkan di berbagai situs perjalanan. Indonesia itu indah ya. Sangat indah malah. Masih terlalu banyak tempat yang wajib dikunjungi selama masih muda, bagi saya. Sudah hampir setengah jam, saya menghabiskan waktu istirahat saya untuk berkeliling di situs maya tersebut. Namun, saya masih belum bisa menentukan destinasi yang cocok untuk pergi pada saat long weekend nanti. Iya, long weekend untuk bulan Mei kemaren. Bip. Bib. Notifikasi hp saya berbunyi. Ada pesan masuk. Ternyata teman kuliah saya yang sekarang sudah bekerja di Pulau Bangka, Utami namanya. Dia menanyakan hal-hal yang terkait dengan pekerjaannya. Setelah selesai, saya pun iseng tanya apakah long weekend nanti ada acara tidak. Tidak ada katanya. Dia free. Asyiik. Saya pun segera menanyakan apakah dia mau menemani saya mbolang di tempatnya sekalian silaturahmi karena sudah setahun tidak bertemu. Dia pun dengan senang hati mengamini. Hahaha.  


Saya langsung membuka situs tiket.com untuk membeli tiket pesawat dari Jakarta ke Bandara Pangkal Pinang. Untungnya, ada tiket promo diskon Rp 100.000,00 untuk setiap perjalanan naik pesawat. Alhamdulillah, rejeki anak solehah, lebih ngirit lagi dong saya. Hahaha. 

Hari Pertama...
Saya berangkat pada hari Jumat pagi. Saya hanya membawa sedikit baju dan tak lupa kamera, hal yang harus di bawa bagi seorang yang narsis seperti saya. Hahaha. Pesawat yang saya naiki siap terbang ke Pulau Bangka. Hei, Pulau Bangka, be nice with me yaa.

Setelah sejam lebih berada di antara awan-awan, akhirnya pesawat berhasil mendarat di Bandar Udara Depati Amir, Pulau Bangka. Saya disambut cuaca yang sangat cerah ditambah sapaan hangat dari teman kuliah saya yang lama tak bertemu. Setelah itu, kami pulang dulu ke kosan dia untuk segera menuju destinasi pertama.

Utami mengajak saya ke pura yang dekat dengan laut di daerah sempur sebagai tujuan pertama. Kami naik sepeda motor ke sana. Butuh waktu hampir sejam untuk ke tempat itu ditambah nyasar-nyasar nyari alamat. Hahaha. Kalau gak nyasar gak seru kali ya. Tapi sayangnya, pura nya lagi ditutup untuk upacara tertentu, jadi tidak bisa masuk. Tapi gak jadi masalah, karena kita masih bisa foto-foto di luarnya. Nah, pas pulang kita melewati lahan yang penuh ilalang. Aakk. Excited. Sudah lama banget pengen foto di ilalang. Akhirnya kita berhenti sebentar untuk foto-foto. Dasar narsis ya. Hahaha. 


Setelah itu, destinasi kedua yaitu Hutan Pinus. Kami hanya mampir sebentar untuk foto-foto . Tempatnya enak, sejuk. Selanjutnya, kita ke Pantai Pasir Padi. Pantai di sini ombaknya tenang dan pasirnya putih. Saya pun tertawa bahagia. Di sini pantainya dekat loh. Paling sejam setengah sudah sampai.  Saya menghabiskan sore saya di sana, foto-foto sambil menikmati suasana pantai. Hari mulai gelap. Kami memutuskan untuk menyudahinya dan segera pulang. Suasana di sana waktu malam hari begitu damai. Ini benar-benar piknik namanya. Hahaha. Kami memutuskan untuk mampir sebentar di warung untuk mencicipi segelas susu kedelai hangat dan hidangan yang ada di sana. Setelah kenyang, baru deh pulang. Sesampainya di kosan, saya segera mandi, sholat, dan tepar di kasur. Kita tak segera tidur. Masing-masing dari kami menceritakan kehidupan kami masing-masing, mulai dari pekerjaan, sampai masalah asmara. Yah, yang namanya cewek lah ya, kalau disuruh ngobrol, gak berhenti-berhenti memang sampai ketiduran. Hahaha.



Hari Kedua...
Matahari pagi tampak malu-malu menyinari. Saya sudah mandi dan sarapan tinggal menunggu jemputan mobil. Iya, kami menyewa mobil untuk mbolang seharian. Tapi kami tidak sendiri, ada kakak Utami dan suaminya yang dengan senang hati menemani mbolang kami. Asyik, tambah seru.

Destinasi pertama, Pantai Tikus. Pantai ini ada viharanya loh. Bagus banget. Damai lah pokoknya di sana. Kenapa dinamai Pantai Tikus. Konon katanya karena jalur menuju ke sini susah. Setelah cukup bernarsis-narsis di sini, akhirnya kami ke vihara yang letaknya agak naik, di bukit. Dari tempat parkiran, kita harus menaiki anak tangga terlebih dahulu untuk menuju puncaknya. Dari situ, kita bisa melihat Pulau Bangka secara keseluruhan. Keren banget. Pantainya kelihatan berkilau dari kejauhan. Pun demikian dengan area lainnya. Indah dipandang.




Utami (kiri), saya, dan Mbak Dian

Pantai Tikus


Pulau Bangka dari atas bukit

Hari semakin siang. Perut-perut sudah berteriak minta dikasih makan. Akhirnya, kami mampir ke Pauw’s Kopitiam untuk mengisi perut kami. Menu di sini bermacam-macam sampai saya bingung harus milih yang mana. Akhirnya pilihan saya jatuh kepada mie siram seafood. Endes Bambaang. Enak banget!

Setelah kenyang, kita langsung menuju destinasi ketiga, Pantai Parai. Duh, tambah baguus pantainya. Ada gazebo-gazebo dan cottage di pinggiran pantai. Selain itu, kita ditemani oleh alunan musik yang merdu dinyanyikan oleh penyanyi lokal di sana. Angin sepoi-sepoi memainkan ujung kerudung saya. Saya duduk di tepian pantai menikmati indahnya ciptaan Tuhan.
Pantai Parai



Hari mulai sore. Matahari lambat laun meninggalkan peraduannya. Kami segera bersiap-siap untuk kembali. Namun, kakaknya Utami mengatakan untuk mampir ke Pantai Rambak sejenak. Sayang kalau tidak dikunjungi katanya. Baiklah. Kita meluncur ke sana. Setelah puas bermain air di sana, kami segera pulang untuk mengistirahatkan badan yang puas mbolang.
Pantai Rambak

Hari ketiga...
Hari ini hari terakhir saya di sini. Pagi-pagi, setelah sarapan, Utami mengantarkan saya ke Bandara. Mbolangnya telah usai. Setelah waktu boarding, saya segera naik ke pesawat untuk kembali ke ibukota. Liburan ini sangat menyenangkan. Apalagi ditemani sahabat. Couldn’t be more happier than this. Semoga di lain waktu, masih diberi kesempatan untuk mbolang bersama lagi. Amin. :)


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .



No comments:

Post a Comment