Wednesday, November 19, 2014

Semalam di Gunung Purba



Sebenarnya, aku tidak punya rencana apapun saat aku pulang kampung, Agustus lalu. Tapi semua berubah sejak negara api menyerang seorang temen masa kuliah dulu, sebut saja Firman, sms kalau dia mau ke Gunung Purba nanti sore. 

Aku sampai rumah sebenarnya sudah jam 10 siang. Setelah istirahat sebentar, mandi, sholat, akhirnya aku sms Firman, kalau aku mau nyamperin dia dan kawan-kawan yang mau berangkat ke sana. Sekalian mau reuni kecil-kecilan sama temen kuliah. Akhirnya aku dianter Ferry, yang juga temen kuliah, ke kosan dia. Di sana sudah ada Wikan yang lagi persiapan ke Gunung dan Singgih yang lagi persiapan pre wedding. Iya, ini serius. Aku kira Singgih mau pre wedding ke Gunung juga. Udah make jas rapi jali dia. Ngebayangin yang cowok pake jas sedangkan yang cewek pake kebaya dan mereka naik gunung bersama. What a romantic! Dan gempor kakinya tentu saja. Hahaha. Ternyata Singgih minta tolong Wikan buat fotoin mereka dulu sebelum ke Gunung. Syukurlah imajinasiku tidak menjadi kenyataan. Hahaha. 

Setelah dihasut  diiming-imingi sama Firman dan Wikan, akhirnya aku kepincut juga pengen ke sana. Ferry juga. Akhirnya kita langsung persiapan ala kadarnya dan nyusul mereka, ketemu di kosan mbak Hamida. Di sana juga sudah ada Anita, temen kuliahku juga. Kita sampai Jogja hampir jam 7 malam. Setelah makan malam bersama, akhirnya kita langsung menuju TKP. 

Ini pengalaman pertamaku naik gunung malem-malem. Rasanya gak bisa ditulis dengan kata-kata. Exciting. Capek juga. Eh, dingin juga ding. Hahaha. Dan aku baru nyadar kalo Ferry bawa tas ransel beraaat banget. Ini anak gak tau apa kalo dia bakal jalan nanjak? Setelah ditanya, ternyata dia bawa baju 3 biji, sarung, sampo, dan lain-lain. Alasannya, kalo abis mandi, biar ganti-ganti bajunya. Lah, dipikir mau kemping deket sungai apa. Padahal kan cuma semalem. Rempong bener ini anak. Hahaha. 

Setelah sampai mendekati puncak, Firman, Wikan, Anita, dan Mbak Hamida bikin tenda. Ferry cari kayu bakar. Aku? Aku bantu sorotin mereka pake lampu senter doang sih. Lha gak bisa. Seenggaknya membantu lah. Hahahaha. Setelah selesai, aku pamit mau tidur duluan. Capek banget belum tidur sejak sampai Solo.
Dini hari, aku dibangunin buat persiapan liat sunrise. Setelah solat subuh, kita pelan-pelan naik ke atas puncak, sambil nunggu matahari nongol. Ternyata banyak juga yang pengen liat. Ada juga anak-anak pramuka praja muda karana. Semua orang merekatkan jaket mereka, menahan hawa dingin yang tak jua berkurang.





Setelah puas foto-foto liat sunrise, destinasi selanjutnya adalah danau purba. Danau itu pada awalnya adalah sebuah kawah. Saat sampai sana, hari sudah terik. Karena lapar, temenku beli sosis dan dibagikan ke kita masing-masing satu. Aku makan duluan sampai habis tak bersisa. Dan ternyata, temenku bilang saat udah sampai danau, kalau sosisnya sudah kadaluwarsa, makanya mereka buang lagi. Aakkk. Gimana dongs. Aku udah makan. Yaudahlah, pasrah sama Gusti.



Karena waktu yang mengharuskan aku balik ke Jakarta lagi sudah mepet. Akhirnya kita pulang. Aku sampai rumah jam 1an siang. Kemudian ketiduran. Bangun tidur, langsung siap-siap dan kembali lagi ke asal. Selamat datang kembali rutinitas. Terima kasih teman atas memori yang telah dibagi bersama. :)

No comments:

Post a Comment