Tuesday, January 29, 2013

Loving you is not that easy

Loving you is never that easy, Ben.
Then, why u still holding on your self to keep waiting me, Fa?



Entah kenapa aku sampai saat ini masih bisa bertahan untuk menyayangimu, Ben. Kamu tahu, jujur ya, aku sebenarnya enggak pernah mau kamu gantung seperti ini, Ben.  Aku nggak tau kenapa aku masih bisa bertahan sampai saat ini. Mungkin karena aku merasa nyaman saja saat sama kamu.

Aku enggak tau apa yang sebenarnya di hatiku saat ini, Fa. Aku bingung. Memilih sesuatu itu tidak pernah mudah ya? Aku enggak pernah berniat mempermainkanmu, Fa. Jujur, aku juga nyaman saat bersama kamu. Pun saat bersama dia, Fa. Kalian itu sama-sama berharga buat aku.



Memilih tidak pernah sesulit itu, Ben. Kamu yang membuatnya menjadi begitu sulit. Setiap keputusan itu ada konsekuensinya, Ben. Saat kamu memilih aku, kamu pun harus merelakan dia. Begitupun sebaliknya.

Tapi Fa. Apakah aku terlihat antagonis? Mungkin aku egois ya? Aku tidak pernah bisa melepas kalian. Sulit, Fa.

Aku gak pernah menyalahkan kamu, Ben. Itu hak kamu. Aku tahu kamu dulu ada rasa sama dia. Bahkan mungkin, aku hanya kamu anggap pelarian saja saat kamu tahu dulu dia sudah punya yang lain.  Dan saat kamu punya aku, dia beralih kepadamu. Dan kamu balas semua perhatiannya juga. Kamu tahu,  itu menyakitkan buat aku, Ben. Ingin rasanya aku berhenti, Ben. Tapi aku enggak tahu kenapa aku masih bisa bertahan sampai detik ini, Ben. Ini masalah perasaan, Ben. Masalah hati.

Fa, aku enggak pernah berniat mempermainkan kamu, pun dengan dia. I just do what i want to do. Aku hanya bingung dengan perasaanku sendiri. Bahkan aku gak tau apa sebenarnya inginku. Fa, apa aku terlihat antagonis di hadapanmu? Bahkan sekarang pun aku sudah melukai banyak perasaan. Apakah aku masih pantas untuk disayangi kalian? Bukankah lebih baik aku mundur dari kalian berdua daripada harus memilih? I'm stuck on it, Fa! Aku bahkan mungkin terlihat buruk di matamu kan, Fa?

Apa dengan begitu kamu merasa lebih baik, Ben? Bukankah itu hanya akan melukai perasaanmu juga. Kamu tahu itu sakit, kenapa masih melakukannya? Apa cuma dengan merasa bersalah semua akan berubah lebih baik? Hidup ini gak hanya sehari dua hari, Ben. Setiap hari kita dihadapkan pada berbagai keputusan. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi kan. Yang terpenting sekarang, kamu harus mengambil keputusan dan kamu pun harus menjalani segala konsukensinya, Ben. Yang penting kamu senang dengan keputusanmu itu, aku akan terima. 

Fa, apa kamu marah sama aku? Aku stupid yah? Masih bisa ngomong terus terang seperti ini sama kamu. Stupid karena masih berani berkata apa yang ada di pikiranku. Aku hanya gak bisa menyembunyikan segala sesuatu darimu, pun demikian dengan yang ada di pikiranku. Aku merasa aku belum siap dengan semua ini. Aku stupid karena aku memberikan harapan yang gak pasti denganmu, pun demikian dengan dia. Aku hanya gak ingin kehilangan kalian. Aku terlalu pengecut untuk memilih ya.  
Karena menurutku, kalau aku memilih salah satu diantara kalian, aku pasti akan  kehilangan satu yang lain. Aku hanya belum siap untuk itu. Fa, aku belum siap untuk memulai sebuah hubungan lebih dari teman untuk saat ini. Maafkan keegoisanku ini, Fa. Aku belum pantas untuk ini. Aku awam tentang semua ini, Fa. Aku hanya tidak bisa. Maafkan aku, Fa.

Ben, aku akan menerima kamu apa adanya. Semua butuh proses, Ben. Tidak ada yang expert dalam masalah perasaan, Ben. Begitupun dengan aku. Jalani apa yang ada di hadapanmu, Ben. Aku tahu kamu bisa.

Tapi, aku tidak ingin kamu menerima aku apa adanya, Fa. Aku ingin kamu menerimaku dengan segala kelebihanku dan memperbaiki segala kekuranganku, Fa. Aku ingin jadi orang yang lebih baik, Fa. Karena mau tidak mau, aku akan jadi kepala keluarga, Fa. Aku akan jadi imam bagi istri dan anak-anakku. Bagaimana aku bisa jadi imam yang baik kalau aku masih belum mengetahui apa yang ada di lubuk hatiku, Fa? There's a lots guy in this world, Fa. Kenapa kamu suka aku, dengan segala kekuranganku. Aku gak ngerti, Fa. Aku belum pantas untukmu untuk saat ini. Just give me a little time. Fa, sekali lagi maaf. Aku hanya ingin sendiri untuk beberapa waktu. Aku ingin memantaskan diriku untuk jadi imam yang baik buat keluargaku kelak. Maafkan aku, Fa. Maaf atas segala tingkah pengecutku. Maaf atas hatiku yang mati rasa saat ini. 

Ini berat untukku, Ben. Tapi aku akan menerima segala keputusanmu. Apapun itu. Aku gak bisa memaksamu. Satu hal yang kamu harus tahu, aku sayang kamu, Ben. Suatu saat nanti kamu pasti akan sadar tentang itu.

Loving you is not that easy, Ben.



No comments:

Post a Comment